Sabtu, 01 Oktober 2011

SUNNAH POSISI TANGAN KETIKA I'TIDAL SETELAH RUKU' [ bag. I ]

Oleh : Ustadz Abu Unaisah Jabir

Berkata al ‘Allamah al Qodhiy Abul Hasan Ali bin Sulaiman al Mardawiy al Hambaliy rohimahulloh : “ . . . kemudian mengangkat kepala dibarengi dengan mengangkat kedua tangannya seraya wajib mengucapkan sami’allohu liman hamidah bagi imam atau munfarid dengan lafadz yang berurut, kemudian ditegaskan oleh al Imam Ahmad jika ia ingin menjulurkan kedua tangannya maka dipersilakan atau jika ingin bersedekap maka juga dipersilakan ”._ [ kitab at Tangqihul Musybi’ ( 92 ) cet. Maktabatur Rusyd ]


Inilah pendapat yang menjadi ketetapan madzhab al Imam Ahmad dalam hal ini yaitu adanya kebebasan antara bersedekap atau meluruskan kedua tangannya. Masing – masing boleh diamalkan dan masing – masing berdasar kepada dalil dan tidak ada riwayat pembid’ahannya dari al Imam Ahmad.

Dalil – dalil yang mensunnahkan bersedekap

1. Hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu riwayat Abu Dawud ( 643 ) dan at Tirmidziy ( 376 ) dengan lafadz :

(( أن رسول اللّه صلى الله عليه وسلم نهى عن السَّدْلِ في الصلاة ))

Terjemah hadits : (( Bahwa Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam melarang as sadl dalam sholat )).

Derajat hadits : Riwayat Abu Dawud dihukumi dhoif oleh Abu Dawud sendiri dalam kitab sunannya. Sedang riwayat at Tirmidziy maka beliau mengisyaratkan akan kelemahannya, dalam sunannya beliau menyatakan : “ Hadits Abu Huroiroh ini maka kami tidaklah mengetahui dari jalan ‘Atho dari Abu Huroiroh secara marfu’ kecuali dari jalan ‘Isl bin Sufyan ”. Berkata al Khollal : “ Al Imam Ahmad ditanya tentang hadits as sadl yang dari Abu Huroiroh ? maka beliau menjawab : hadits itu tidaklah shohih sanadnya, beliau katakan : ‘Isl bin Sufyan bukanlah seorang yang kuat hapalan haditsnya ”. Berkata penulis at Tuhfatul Ahwadziy : “ ‘Isl bin Sufyan telah divonis lemah oleh mayoritas pakar hadits ”._ [ at Tuhfatul Ahwadziy ( 2 / 380 ) MSH ]

Namun sebagian ulama menghukumi shohih riwayat Abu Dawud dan hasan untuk riwayat at Tirmidziy, mereka adalah penulis at Tuhfah ( 2 / 381 ) dan al Albaniy dalam Shohih wa Dhoif Sunan Abi Dawud ( no. 643 ) dan Shohih wa Dhoif sunan at Tirmidziy ( no. 378 ) juga Badi’uddien ar Rosyidiy dalam risalah Ziyadatul Khusyu’ ( 14 )

Kesimpulan : Hukum yang ditetapkan oleh al Imam Ahmad akan lemahnya hadits ini lebih menenangkan hati, wallohua’lam.

Sisi pendalilan : as sadl yang dilarang dalam hadits ini maknanya secara bahasa adalah menjulurkan atau meluruskan [ lihat al Qomus ( 913 ) ], sedang secara syari’ah maka ia dipakai untuk pakaian maupun anggota badan seperti rambut termasuk tangan, oleh karenanya berkata al Minawiy rohimahulloh mensyarah hadits tersebut : “ yang dimaksud adalah meluruskan tangan ”._[ Faidhul Qodir ( 6 / 315 ) dari Ziyadatul Khusyu’ ( 17 ) ] namun larangan disini diarahkan kepada kemakruhan sebagaimana at Tirmidziy menegaskan hal tersebut dalam sunannya dari para ulama, Ahmad dan Ibnul Mubarok. Artinya bahwa I’tidal setelah ruku’ termasuk bagian dari sholat maka makruh didalamnya untuk meluruskan tangan sehingga sebaliknya disunnahkan untuk bersedekap, Wallohu a’lam.

2. Hadits Wa’il bin Hujr riwayat an Nasa’iy dalam sunannya ( 887 ) dengan lafadz :

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان قائما في الصلاة قبض بيمينه على شماله

Terjemah hadits : Aku melihat Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam jika beliau berdiri dalam sholat maka beliau bersedekap.

Derajat hadits : Sanad hadits ini dihukumi shohih oleh al Albaniy dalam Shohih wa Dhoif Sunan an Nasa’iy ( 887 ) juga oleh Badi’uddien ar Rosyidiy dalam Ziyadatul Khusyu’ ( 18 ).

Sisi pendalilan : Bahwa I’tidal setelah ruku’ masuk dalam kategori keumuman (( berdiri )) dalam hadits tersebut yang keumumannya ditunjukkan oleh lafadz (( idza = jika )) maka berarti posisi sunnah dalam berdiri setelah ruku’ adalah juga bersedekap sebagaimana cakupan keumuman lafadz hadits. Sunnah sebab ini adalah perbuatan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, wallohu a’lam.

3. Hadits Wa’il bin Hujr rodhiyallohu ‘anhu riwayat Abdulloh bin Ahmad dalam zawaid musnadnya ( musnad Kufiyyin no. 18.871 ) dengan lafadz :

(( رأيت النبي صلى الله عليه وسلم حين كبر رفع يديه حذاء أذنيه ثم حين ركع ثم حين قال سمع الله لمن حمده رفع يديه ورأيته ممسكا يمينه على شماله في الصلاة )) الحديث

Terjemah hadits : Aku melihat Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam ketika bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya kemudian ketika ruku’ kemudian ketika mengucap sami’allohu liman hamidah, beliau mengangkat kedua tangannya dan aku lihat beliau memegang dengan telapak kanannya atas telapak kirinya ( bersedekap_pent.) dalam sholat.

Derajat hadits :

Sisi pendalilan : Hadits ini menunjukkan bahwa posisi tangan bersedekap ketika beridiri termasuk berdiri diwaktu I’tidal setelah ruku’,wallohu a’lam.

4. Hadits Sahl bin Sa’ad as Sa’idiy rodhiyallohu ‘anhu riwayat al Bukhoriy dalam shohihnya ( 707 ) dengan lafadz :

(( كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل اليد اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة ))


Terjemah hadits : Masing – masing orang diperintahkan untuk meletakkan telapak tangan kanannya pada lengan kiri ( bersedekap_pent.) dalam sholat.

Derajat hadits : Shohih

Sisi pendalilan : Hadits secara umum menyatakan ( dalam sholat ) dan tidak menyatakan ( dalam keadaan berdiri ) sebab didalam sholat, posisi tangan ketika ruku’ adalah pada kedua lutut, ketika sujud adalah pada lantai, ketika duduk adalah pada kedua paha dan ketika berdiri_ mencakup berdiri sebelum ruku’ ataupun sesudah ruku’_ adalah bersedekap, wallohu a’lam. [ lihat kitab Asyarhul Mumti’ ( 3 / 103 – 104 ) MFK ]

Munaqosyah dalil – dalil diatas : Bahwa dalil – dalil diatas tidaklah tegas menetapkan posisi bersedekap ketika I’tidal setelah ruku’. Berkata al ‘Allamah Ibnul ‘Utsaimin rohimahulloh : “ Yang ditegaskan dari al Imam Ahmad bahwa seseorang diberi pilihan antara meluruskan kedua tangannya atau bersedekap. Seolah – olah al Imam Amad berpendapat demikian dikarenakan tidak terdapatinya dalam hadits – hadits yang menunjukkan hal ini dengan tegas sehingga beliaupun berpendapat bahwa seseorang diberi pilihan dalam hal ini . . .”._[ kitab Asyarhul Mumti’ ( 3 / 103 ) MFK ] . . .bersambung insyaalloh.

FATWA TENTANG LASKAR SANTRI

Semenjak beberapa tahun lamanya telah marak disebagian pondok – pondok pesantren dinegeri kita sebuah kegiatan kepesantrenan yang berbau pendidikan jihad. Laskar santri atau biasa disingkat Lastri, itulah mereka, sekelompok santri yang terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan jihad dengan seragam khususnya ; mulai dari pendidikan baris – berbaris, pelatihan fisik, yel – yel dengan nasyid – nasyid jihadi sambil berlari bersama dibawah terik matahari dan kemudian biasa ditutup istirahat dengan menikmati sajian film - film documenter jihad Chechnya atau pelatihan pasukan Taliban dicamp mereka, Afghanistan. Semua itu terjadi dibawah sepengetahuan pihak pesantren bahkan dibawah bimbingan sebagian mereka dan terjadi dinegeri Islam yang aman dan memiliki pasukan tempur yang memiliki wewenang. Apakah tujuan dari Lastri dan pihak – pihak yang terlibat didalamnya ? adakah ditangan para penanggung jawab pesantren bimbingan dari ulama Ahlus Sunnah akan kegiatan mereka ini ? Saya kira mereka beramal dulu baru cari dalih dalam kasus ini seperti yang sudah – sudah.

Maka berikut fatwa al ‘Allamah Sholih bin Fawzan Al Fawzan hafidzohulloh menanggapi fenomena ini sekaligus sebagai nasehat bagi para penanggung jawab pesantren, wallohul Muwaffiq.

Pertanyaan : Apakah pantas bagi penanggung jawab pesantren untuk mendidik para santrinya dengan tarbiyah jihadiyah, hal itu dengan cara membagi para santrinya kepada beberapa kelompok dan menamai masing – masing kelompok dengan nama – nama pertempuran [ seperti syuqqoh khoibar, syuqqoh khondaq, uhud dll_pent. ], menyajikan kepada para santri berita – berita mujahidin di Chechnya dll, menyajikan kepada mereka film – film documenter jihad, pertempuran serta para orang yang gugur didalamnya, dan memperdengarkan kepada mereka nasyid – nasyid Hamas yang memotifasi jihad ?

Jawaban Asy Syaikh hafidzohulloh : “ Seorang pengajar adalah pemegang amanah, yang wajib atasnya adalah mengajarkan dan menjelaskan manhaj kepada para santri yang berada dihadapannya, mengajari mereka fikih, tauhid, nahwu, hadits dan tafsir al Qur’an, jangan ia membawa mereka keluar kepada perkara - perkara yang mereka tidak sampai dan akal mereka tidak mampu menanggungnya serta perkara yang menyibukkan mereka dari pelajaran – pelajaran. Maka mestinya ia menjauhi perkara – perkara ini dan hendaknya mencukupkan pada mengajari mereka pelajaran – pelajaran yang telah terkurikulum untuk mereka, cukuplah ia memahamkan materi – materi pelajaran dan mengajarkannya kepada mereka dan ia menunaikan amanah yang menjadi tanggungannya. Jangan ia membagi para santri kepada kelompok – kolompok dan memfanatikkan mereka kepada kelompoknya masing – masing, jangan ia mendidik mereka dengan pendidikan dasar – dasar pergerakan dan jangan ia mengahalangi mereka dari mempelajari ilmu ”._[ kitab Al Ajwibatul Muhimmah ( 1 / 64) kumpulah Ahmad Al Hushoyyin ]

Ironisnya, sebagian pesantren yang mendakwakan diri mereka sebagai Ahlus Sunnahpun tak mau ketinggalan dengan berbagai aksi Lastri diatas, bahkan mereka mengidolakan tokoh – tokoh semisal Usamah bin Laden . . . ajiib !! kemudian para ustadznya membuka muhadhoroh – muhadhoroh dikalangan awam bertemakan anti teroris . . . sebuah kontradiktif yang bermuatan talbis syaithoniy.

Berikut fatwa al ‘Allamah Asy Syaikh Ibnu Baz rohimahulloh tentang Usamah bin Laden dkk : “ Adapun aksi – aksi yang dijalankan sekarang ini oleh Muhammad al Mis’ariy, Sa’ad al Faqih dan semisal keduanya dari para penebar seruan – seruan yang rusak lagi sesat maka ini tidak diragukan lagi bahwa ia adalah kejelekan yang besar, mereka adalah para duat penyeru kepada kejelekan yang besar dan kepada kerusakan yang fatal. Jadi yang wajib adalah waspada dari tulisan – tulisan yang mereka sebarkan, memusnahkan tulisan – tulisan mereka tersebut dan tidak bekerjasama dengan mereka dalam hal apapun yang mengarah kepada kejelekan, kerusakan, kabatilan dan fitnah. Sebab Alloh hanya memerintahkan untuk bekerjasama dalam kebajikan dan ketakwaan dan melarang dari bekerjasama dalam kerusakan, kejelekan, menebar kedustaan dan menebar seruan – seruan batil yang mengarah kepada perpecahan serta terancamnya keamanan dsb. Seruan – seruan ini yang bersumberkan dari al Faqih atau Mis’ariy atau dari selain keduanya dari para penyeru kebatilan, para duat penyeru kejelakan dan perpecahan wajib untuk diakhiri, dimusnahkan dan tidak boleh dilirik sama sekali. Juga wajib untuk mereka dinasehati dan diarahkan kepada kebenaran dan mereka diperingatkan dari kebatilan ini. Tidak diperkenankan bagi seorangpun untuk bekerjasama dengan mereka dalam kejelekan ini, mereka wajib dinasehati, mereka wajib untuk kembali kepada kebenaran dan mereka wajib untuk meninggalkan kebatilan ini dan menjauhinya. Maka nasehatku untuk Mis’ariy, al Faqih dan Ibnu Laden serta untuk siapa saja yang menempuh cara – cara mereka agar mereka meninggalkan cara – cara yang pahit ini, agar mereka bertakwa kepada Alloh dan waspada dari siksa dan murkaNya, agar mereka kembali kepada kebenaran dan agar mereka bertaubat dari aksi – aksi yang telah mereka perbuat, sesungguhnya Alloh telah berjanji untuk menerima taubat dari para hamba yang bertaubat dan berjanji untuk memberikan kebaikan kepada mereka . . .”_ [ Majallatul Buhuts vol. 50 ( 7 – 17 ) dan Majmu’ul Fatawa wa Maqoolatisy Syaikh ( 9 / 100 ) dari Al Ajwibatul Muhimmah ( 1 / 166 – 167 ) ]

Semoga para penanggung jawab pesantren tersebut diberi taufiq oleh Alloh untuk mengambil nasehat kedua alim besar Ahlus Sunnah diatas dan mau kembali kepada petunjuk.

وصلى الله على محمد وسلم والله أعلم والحمد لله

Jumat, 30 September 2011

INILAH WAHHABI SESUNGGUHNYA...!!

Wajib diketahui oleh setiap kaum Musimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan.Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya,mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.. Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini??

Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??

Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko
________

Salah seorang Dosen itu berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.

Asy Syaikh berkata : ”saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :

”baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid,”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun olehorang-orang wahabi itu ??”maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab:”Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”.

(wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)

Dosen itu berkata lagi :”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

Asy Syaikh menjawab:”dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar,yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:”wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”

Dosen itu berkata:

”Ya,”kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”

Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H”

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: ”wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi ” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”

Mereka semua menjawab :”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”

Asy syaikh berkata lagi : ”bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????

Mereka berkata : ”Siapa lagi???”

Asy Syaikh berkata:”Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …

Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir..bahkan sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir..apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???

(Merekapun terdiam beberapa saat..)

Kemudian mereka berkata:”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”

Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”

Dosen itu berkata:”Ya ini ada,”

Asy Syaikh pun berkata :”Coba tolong buka di huruf “ wau” ..maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “ Wahabiyyah”

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.

Syubhat yang tersebar dinegeri-negeri Islam ini dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum muslimin.

Sesungguhnya telah diketahui bahwa dulu para penjajah menguasai kebanyakan negeri-negeri islam pada waktu itu,dan saat itu adalah puncak dari kekuatan mereka. Dan mereka tahu betul kenyataan pada perang salib bahwa musuh utama mereka adalah kaum muslimin yang bebas dari noda yang pada waktu itu menamakan dirinya dengan Salafiyyah. Belakangan mereka mendapatkan sebuah pakaian siap pakai, maka mereka langsung menggunakan pakaian dakwah ini untuk membuat manusia lari darinya dan memecah belah diantara kaum muslimin, karena yang menjadi moto mereka adalah “PECAH BELAHLAH MEREKA, NISCAYA KAMU AKAN MEMIMPIN MEREKA ”

Sholahuddin Al-Ayubi tidaklah mengusir mereka keluar dari negeri Syam secara sempurna kecuali setelah berakhirnya daulah Fathimiyyah Al-Ubaidiyyin di Mesir, kemudian

beliau (Sholahuddin mendatangkan para ulama ahlusunnah dari Syam lalu mengutus mereka ke negeri Mesir, sehingga berubahlah negeri mesir dari aqidah Syiah Bathiniyyah menuju kepada Aqidah Ahlusunnah yang terang dalam hal dalil, amalan dan keyakinan.

(silahkan lihat kitab Al Kamil Oleh Ibnu Atsir)

Kamis, 11 Agustus 2011

Al 'Allamah Al Fawzan : " Sekte Murji'ah Zaman Ini "

Berkata Al ‘Allamah Sholih Al Fawzan hafidzohulloh : “ . . . dan murji’ah ada empat sekte ;

Sekte pertama : Murji’ah ekstrim, mereka adalah jahmiyyah, orang – orang yang menyatakan bahwa iman adalah sekedar ma’rifah ( beliau hafidzohulloh menjelaskan : yaitu jika seseorang mengenal Alloh yang mencipatanya maka dia adalah seorang mukmin_ Syarh Lum’atil I’tiqod halm. 178 ).

Sekte kedua : Para pengikut Asy’ariyyah, orang – orang yang menyatakan bahwa iman adalah meyakini akan benarnya dengan hati semata meskipun tidak mengucapkan dengan lisannya, menurut mereka tidak hanya sekedar ma’rifah ( beliau hafidzohulloh menjelaskan : dan pernyataan ini tidaklah benar sebab orang – orang kafir mereka meyakini dengan hatinya akan benarnya rasul sholallohu ‘alaihi wasallam dan mereka mengenal bahwa beliau adalah rasul utusan Alloh_ kitab Syarh Lum’atil I’tiqod halm. 179 ).

Sekte ketiga : Para pengikut Karromiyyah, orang – orang yang menyatakan bahwa iman adalah mengucapkan dengan lisan meskipun tidak meyakini dengan hati ( beliau hafidzohulloh menjelaskan : kensekwensi dari pernyataan ini bahwa orang – orang munafik mereka adalah orang – orang yang beriman_ kitab Syarh Lum’atil I’tiqod halm. 180 ).

Sekte keempat : Murji’ah para ahli fikih, orang – orang yang mengatakan bahwa iman adalah mengucapkan dengan lisan dan meyakini dengan hati sedangkan amal – amal lahiriyah maka tidak termasuk iman .

Ada Sekte kelima yang muncul sekarang : mereka adalah orang – orang yang menyatakan sesungguhnya amal – amal lahiriyah hanyalah syarat kesempurnaan iman, baik kesempurnaan wajib atau mustahab ”._ [ kitab Ta’liq Mukhtashor ‘alal Qoshidah an Nuuniyyah (647 – 648) ]

AL 'ALLAMAH AL FAWZAN : " KHOWARIJ MASIH ADA "

Pertanyaan : Apakah dizaman ini masih ada orang yang menghusung pemikiran khowarij ?

Jawaban Al ‘Allamah Al Fawzan hafidzohulloh : “ Yaa Subhanalloh ! apa yang terjadi sekarang ini, bukankah ini perbuatan khowarij ? Memvonis kafir kaum muslimin . . lebih parah dari itu yaitu membunuh kaum muslimin dan memusuhi mereka dengan berbagai aksi pengeboman, ini adalah madzhab khowarij.

Madzhab ini bermuatan tiga perkara : 1. Memvonis kafir terhadap kaum muslimin. 2. Keluar dari ketaatan kepada pemerintah dan 3. Menghalalkan penumpahan darah kaum muslimin.

Inilah dia madzhab khowarij, sampaipun seandainya seseorang hanya meyakini dengan hatinya madzhab ini tanpa ia menegaskan dengan ucapannya ataupun tanpa ia melakukan tindakan fisik,tetap saja ia menjadi seorang pengikut khowarij, seorang khorijiy dalam keyakinan dan pemikirannnya yang meskipun tanpa ia tegaskan dengan ucapan ”._ [ kitab Al Ijabatul Muhimmah (1/9) ]

FIKIH QUNUT WITR

Oleh : Al-Ustadz Abu Unaisah Jabir

Berikut adalah kesimpulan – kesimpulan dari hasil pengkajian Asy Syaikh DR. Muhammad Umar Salim Bazmool hafidzohulloh terhadap hadits – hadits dan atsar yang datang dalam pembahasan qunut dalam sholat witr ;


Berkata Asy Syaikh hafidzohulloh : “ Penutup, risalah ini menghasilkan beberapa kesimpulan penting sebagai berikut :

1. Bahwa pernyataan sebagian ulama : tidak terdapati satupun hadits shohih dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam tentang qunut witir sebelum atau sesudah rukuk, demikian halnya bahwa pernyataan Ibnu AbdilBarr rohimahulloh : tidak terdapati satupun hadits shohih yang musnad dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dalam qunut witr_selesai, bahwa pernyataan – pernyataan ini perlu dikaji ulang ! dan bahwa pernyataan tersebut tidaklah dapat diterima. Dimana telah shohih hadits qunut witr secara musnad dari hadits Al Hasan bin Ali dan hadits Ubaiy bin Ka’ab rodhiyallohu ‘anhuma, wallohu a’lam. Sebgaimana telah shohih pula dari perbuatan para sahabat diantaranya Umar bin Al Khothob, Ibnu Mas’ud, Ubaiy bin Ka’ab dan selain mereka rodhiyallohu ‘anhum. Perbuatan semisal ini tidaklah layak sekedar berpijak pada akal pendapat atau ijtihad semata sebab posisinya adalah ibadah sedangkan ibadah haruslah berdasar dalil wahyu maka andaikan tidak karena mereka memiliki dalil wahyu niscaya mereka tiada akan mengerjakannya.

2. Bahwa qunut witr disyari’atkan sepanjang masa namun yang sunnah dalam pengerjaannya adalah terkadang – terkadang saja dengan dalil adanya silang pendapat dikalangan ulama mengenai bolehnya dikerjakan sepanjang masa yang hal ini menunjukkan bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam terkadang beliau tidak mengerjakannya. Lebih ditekankan lagi pengerjaannya secara berkelanjutan sedari pertengahan romadhon dimulai dari malam ke-enam belas. Disyariatkan untuk tidak mengerjakan qunut disetengah bulan pertama romadhon yaitu jika ia bertugas sebagai imam sholat, ini adalah termasuk sunnah yang telah ditinggalkan bahkan termasuk sunnah yang tidak lagi dikenali. Namun apabila ia mengerjakan qunut sedari awal hingga akhir romadhon maka tiadalah mengapa.

3. Bahwa qunut witr boleh dikerjakan sesudah rukuk ataupun sebelumnya namun yang lebih utama adalah sebelum rukuk.

4. Bahwa termasuk sunnah yang telah ditinggalkan pengamalannya dimasa kini adalah bertakbir sebelum qunut witr dan bertakbir sesudahnya yaitu pada qunut sebelum rukuk.

5. Bahwa yang sunnah bagi seorang imam untuk mengeraskan bacaan qunut witr dan bagi makmum untuk mengaminkannya.

6. Bahwa yang sunnah dalam bacaan qunut adalah tidak diperpanjang, andaikan seseorang membatasi dengan bacaan – bacaan yang terdapat dalam hadits – hadits maupun atsar maka hal itu lebih utama. Namun andaikan ia sesekali memanjangkan bacaannya dengan bacaan – bacaan tersebut maka hal itu diperbolehkan.

7. Bahwa tidak ada ketentuan bacaan qunut dengan lafadz khusus sehingga diperbolehkan untuk membaca lafadz doa secara bebas namun jika membatasi dengan lafadz – lafadz yang terdapati dalam hadits dan atsar maka hal itu lebih utama.

8. Bahwa yang sunnah bagi imam witr romadhon untuk tidak mengerjakan qunut witr disetengah bulan pertama namun disetengah bulan kedua hingga akhir romadhon dan dengan membaca doa laknat atas orang – orang kafir.

9. Bahwa disyari’atkan dalam doa qunut witr untuk mengangkat kedua telapak tangan, disyariatkan juga untuk tidak mengangkatnya, ataupun untuk mengangkatnya diawal doa dan menurunkannya diakhir doa, semua itu adalah boleh dilakukan.

10. Bahwa tidak disyari’atkan mengusap muka dengan kedua telapak tangannya seusai doa qunut.

11. Bahwa disyari’atkan membaca sholawat dalam qunut witr.

12. Bahwa siapa yang terbiasa membaca qunut dalam witrnya kemudian suatu kali ia lupa maka ia melakukan sujud sahwi, adapun seorang yang tidak membiasakan membaca qunut witr kemudian lupa atau sengaja meninggalkannya maka ia tidak perlu sujud sahwi.

13. Bahwa diantara para sahabat yang paling banyak dinukil darinya hukum – hukum qunut witr adalah Ibnu Mas’ud dan Ubaiy bin Ka’ab rodhiyallohu ‘anhuma.

14. Bahwa sholat yang paling serupa dengan witr adalah sholat maghrib sebab maghrib adalah witrnya sholat – sholat siang, maka qunut nazilah yang shohih ketetapannya dalam sholat maghrib berarti shohih pula ketetapannya dalam sholat witr. Lebih menguatkan akan hal ini bahwa apa yang sah ketetapannya dalam sholat wajib maka sah pula ketetapannya dalam sholat sunnah melainkan terdapati dalil yang mengecualikannya.

15. Bahwa mayoritas hukum – hukum qunut witr adalah ditetapkan dengan pengerjaan para sahabat atasnya, sementara posisi ini bukanlah tempat untuk ditetapkan dengan akal atau ijtihad semata sehingga ia memiliki hukum marfu’ sedangkan silang pendapat diantara mereka dalam beberapa hukum ini maka tidak lain adalah dari jenis ikhtilaf tanawwu’ ( keragaman cara ) selama masih memungkinkan untuk dikompromikan, wallohul Muwaffiq.

Inilah yang dimudahkan bagiku dikesempatan ini untuk mengumpulkannnya dan mengkajinya . . .”_ [ risalah Al Ahadits wal Atsar Al Waridah Fie Qunutil Witr Riwayatan wa Diroyatan halm. 69 – 70 karya DR. Muhammad Umar Salim Bazmool hafidzohulloh ]

RAHASIA INDAH DIBALIK PUASA

Oleh : Al-Ustadz Abu Unaisah Jabir

Berkata Asy Syaikh Ahmad Ibnu Qudamah rohimahulloh : “ Ketahuilah ! bahwa didalam puasa terkandung keistimewaan yang tidak dimiliki oleh selainnya yaitu penisbatannya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, dimana Dia Yang Maha Suci berfirman : { الصوم لي وأنا أجزي به } yang maknanya { Puasa itu adalah untukKu dan Aku yang akan memberikan balasan terhadapnya }. Penisbatan ini cukuplah menjadikannya sebuah kemuliaan sebagaimana mulianya ka’bah dengan penisbatannya kepadaNya dalam firmanNya : { وطهر بيتي } yang artinya { dan sucikanlah rumahKu }.


Keistimewaan puasa tiada lain sebab dua makna yaitu : Pertama , ia adalah rahasia dan merupakan amalan batin yang tidak dilihat oleh orang lain serta tidak disusupi keinginan untuk dilihat dan dipuji oleh orang lain. Kedua , ia merupakan penakluk musuh Alloh sebab senjata penghantar musuh ini ialah berbagai nafsu syahwat, sementara syahwat akan menguat dengan makan dan minum sehingga selama media syahwat subur niscaya para syaitonpun akan berbolak – balik mengunjungi media tersebut, namun dengan meninggalkan syahwat maka jalan – jalan akan menjadi sempit atas para syaiton tersebut.

Ada sekian banyak hadits yang memberitakan keutamaan – keutamaan puasa dan hadits – hadits tersebut adalah terkenal adanya ”_ kitab Mukhtashor Minhajul Qoshidien ( 54 ) cet. Al Maktab Al Islamiy.

Beliau rohimahulloh berkata : “ Puasa memiliki tiga tingkatan ; puasa awam, puasa khusus dan puasa yang lebih khusus.

Adapun puasa awam, maka ia adalah menahan perut dan kemaluan dari menyalurkan syahwatnya.

Sedang puasa khusus maka ia adalah menahan pandangan, lisan, tangan, kaki, pendengaran dan seluruh raga dari beragam kemaksiatan.

Dan adapun puasa yang lebih khusus lagi maka ia adalah puasanya hati dari keinginan – keinginan yang rendahan dan dari berbagai pikiran yang menjauhkan jiwa dari Alloh Ta’ala serta menahan hati dari selain Alloh secara totalitas. Puasa tingkatan ini memiliki beberapa perincian yang akan dipaparkan diruang yang lain.

Maka diantara adab puasa khusus adalah menundukkan pandangan, memelihara lisan dari omongan yang menyakitkan berupa omongan yang diharamkan maupun dimakruhkan atau bahkan omongan – omongan yang tiada faedah padanya serta mengawasi onggota badan yang lainnya.

Dalam sebuah hadits dari riwayat Al Bukhoriy bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

{ من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه }
Terjemahannya : { barang siapa berpuasa namun tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dengannya niscaya Alloh tidak akan memperdulikan ia meninggalkan makan dan minum }.

Diantara adab - adabnya adalah untuk tidak ia memenuhi perutnya dengan makanan dimalam hari namun ia hendaknya makan sekedar yang mencukupinya sebab manusia tidaklah ada kantong yang ia penuhi yang lebih jelek dibandingkan perutnya. Kapan saja ia kekenyangan diawal malam niscaya ia tidak akan mendapat manfaat dalam dirinya disisa malamnya, demikian halnya jika ia kekenyangan diwaktu sahur niscaya ia tidak akan mendapat manfaat dalam dirinya hingga menjelang dzuhur sebab banyak makan akan menumbuhkan kemalasan dan keloyoan. Ditambah lagi bahwa dengan banyak makan akan hilang darinya maksud dari puasa dimana maksud darinya adalah agar ia tersentuh rasa lapar sehingga menjadi orang yang sanggup meninggalkan apa yang dimau oleh syahwatnya ”_ ibid ( 55 – 56 ).

Sabtu, 30 Juli 2011

NASEHAT SYAIKH KHALID BIN DHAHAWI AZH-ZHAFIRI HAFIZHAHULLAH TA’ALA

KALIMAT PENUTUP DAURAH MASYAYIKH, YANG DISAMPAIKAN OLEH SYAIKH KHALID BIN DHAHAWI AZH-ZHAFIRI HAFIZHAHULLAH TA’ALA

20 SYA’BAN 1432 H / 21 JULI 2011 M

Bismillahirrahmanir Rahim

Satu kalimat dipagi hari ini, disebabkan karena tidak lama lagi kami akan melanjutkan perjalanan Insya Allah, maka saya berkata:

Pada hakekatnya, kami berterima kasih kepada kalian atas kesungguhan kalian untuk hadir (dalam daurah ini) dan semangat kalian untuk menuntut ilmu, dan perhatian kalian dan kemuliaan kalian dalam menjamu para tamu. Hal ini sangat jarang kami dapati di negeri- negeri yang lain. Sebagaimana yang telah kami katakan: bahwa tidaklah kami keluar meninggalkan negeri ini melainkan kami selalu merasa rindu untuk kembali lagi kepadanya, disebabkan apa yang kami saksikan dari persaudaraan yang jujur, dan perhatian yang besar kepada ilmu dari para ikhwan disini, dan pada kalian seluruhnya insya Allah.

Maka saya ingin wasiatkan kepada kalian wahai saudara-saudaraku karena Allah, aku nasehatkan untuk diriku dan juga kalian:

Pertama: untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dan senantiasa ta’at kepada-Nya, menjauh dari berbagai macam syubhat dan syahwat, menjauh dari jalan syaitan, sebab bertaqwa kepada Allah merupakan keselamatan.

Sebagaimana aku nasehatkan kalian untuk perhatian terhadap ilmu, membaca kitab- kitab, dan bersungguh- sungguh padanya, mendengarkan kaset- kaset dan syrah- syarah dari kitab- kitab para ulama yang telah dikenal, dan tidak mengambil dari siapa saja yang didengar dan dibaca kitab- kitabnya, namun harus engkau mengetahui bahwa orang ini termasuk dari kalangan ahli ilmu yang dipercaya ilmu, manhaj dan juga aqidahnya, sehingga engkau tidak terjerumus kedalam syubhat yang dia sampaikan dalam keadaan kamu tidak merasakannya. Kalian harus menambah perhatian terhadap ilmu dan menuntut ilmu.

Kemudian aku nasehatkan pula kalian untuk bersungguh- sungguh pula dalam mempelajari bahasa Arab, cukup banyak dikalangan para ikhwan yang kami datang setiap tahun namun dia tetap saja berada dalam level yang sama dalam bahasa arab (tidak ada peningkatan,pen), tentu ini merupakan satu kekurangan.

Seorang penuntut ilmu, dia tidak mempelajari dan memperluas ilmunya hingga dia benar- benar menekuni bahasa Arab. Mayoritas kitab-kitab para ulama dan kebanyakannya dengan bahasa ini, Al-qur’an dan as-sunnah juga dengan bahasa ini. Kami tidak mengingkari kesungguhan para ikhwan dalam penerjemahan, dan yang semisalnya, namun ini tidaklah mencukupi dari membaca kitab- kitab yang berbahasa Arab, sebab penerjamahan tersebut tergantung pada pemahaman seorang penerjemah dan kepandaiannya dalam bahasa Arab, dan manusia bertingkat-tingkat dalam perkara ini.

Sebagaimana aku wasiatkan kalian untuk semangat dalam persatuan dan persaudaraan diantara kalian, dan saling menasehati diantara kalian dengan cara lemah lembut dan halus, terkhusus diantara para ikhwah salafiyyin, dan menjauh dari sebab-sebab perselisihan, perpecahan, dan sebab yang menyebabkan kalian lalai dalam berdakwah dan mengalami kemunduran dalam berdakwah. Semua itu penyebabnya adalah perselisihan yang terjadi diantara kita. Jika muncul permusuhan atau perselisihan, hendaknya kedua belah pihak berusaha untuk menyelesaikannya dengan berbagai jalan dan usaha.

فلا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم

“Janganlah kalian berselisih sehingga kalian terkalahkan dan hilang kekuatan kalian.”

Dengan perselisihan menyebabkan hilangnya kekuatan, dan dakwah terbengkalai, dan hilang kekuatan islam dan kaum muslimin.

Sebagaimana Aku wasiatkan kalian untuk berhati-hati dari yayasan- yayasan hizbiyah, sebab mayoritas kepentingan mereka terfokus pada kaum muslimin di luar negeri- negeri Arab, perhatian mereka terfokus disini, Indonesia, India, Pakistan, dan kebanyakan negeri- negeri yang jauh dari negeri- negeri Arab. Mereka mengerahkan kesungguhannya hingga mampu memalingkan manusia kepada hizbiyah mereka dan kepada hawa nafsunya, terkhusus apa yang mereka miliki dari fitnah, yaitu fitnah harta, dimana Yayasan Ihya At-Turats datang dan ingin menarik para pemuda dinegeri ini kedalam hizbiyahnya, dan mereka telah berhasil menarik dan menarik sambil membawa apa yang mereka miliki dari dunia, sehingga dakwah mereka tidak memberikan hasil, dan tidak menghasilkan kecuali kehinaan yang disebabkan terperosoknya kedalam lubang hizbiyah yang bid’ah. Demikian pula pada hari-hari belakangan ini Yayasan Darul Birr juga berusaha masuk ke tengah-tengah para ikhwan kita, namun akhirnya merekapun tersingkap walhamdulillah. Yayasan ini juga merupakan yayasan hizbiyah yang merupakan saudara kandung Ihya At-Turats, yang telah memberi bantuan kepada Abul Hasan Al-Ma’ribi dan mengundangnya ke Emirat Arb untuk mengadakan pengajian- pengajian, maka hendaknya berhati- hati dari hizbiyah dan yayasan ini.

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullah:

(لا تجعل لصاحب بدعة عليك منة فيميل إليه قلبك )

“jangan engkau menjadikan ahli bid’ah berbuat baik kepadamu sehingga hatimu condong kepadanya.”

Ahli bid’ah jika datang kepadamu, memberikan sesuatu kepadamu, dan berbuat baik kepadamu dengan satu hal, dan memberikan kepadamu harta, pada awalnya mereka berkata: kami tidak menginginkan sesuatu kepadamu, dan kami tidak memberi persyaratan, kami hanya ingin membantumu saja. Namun sedikit demi sedikit hingga akhirnya mereka mampu menarikmu dan menarik dakwahmu, sehingga kamupun membela mereka. Hal ini merupakan hal yang disaksikan dan kenyataan yang terjadi pada kebanyakan mereka.

Engkau mengajar dan belajar dibawah pohon leih baik bagimu daripada binasa bersama hizbiyah – hizbiyah dan yayasan yang binasa ini, engkau tidak akan dapat menghasilkan ilmu, agama dan juga sunnah. Maka sepantasnya seseorang berhati- hati dari hizbiyah ini dan yang lainnya.

Inilah wasiat antuk diri saya pribadi dan juga untuk kalian, saya berharap kalian dapat menerimanya dan menyimaknya. Demikian pula saya ulangi kembali ucapan terima kasih atas kalian dan juga atas semangat kalian. Kami memohon kepada Allah Azza Wajalla agar memberi kami dan juga kalian kekokohan diatas sunnah, dan mematikan kami diatasnya, dan menjadikan penutup hidup kami dengan Laa Ilaaha Illallaaah, dan mewafatkan kami dan kalian dalam keadaan muslim, serta menjauhkan kami dari berbagai fitnah yang jahat baik yang nampak maupun yang tersembunyi berupa syubhat dan syahwat. Kami memohon kepada Allah agar melindungi kami darinya.

Jazakumullah khaeran wabaarakallahu fiikum

Wassalaamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Berikut transkrip dalambahasa Arab:

بسم الله الرحمن الرحيم

كلمة في هذا الصباح لأن رحلتنا تكون بعد قليل إن شاء الله فأقول : حقيقة نشكر لكم اجتهادكم في الحضور وحرصكم على طلب العلم واهتمامكم وكرم الضيافة . فهذا قلما نجده في أي بلد من البلدان وكما قلت: ما نخرج من هذا البلد حتى نتشوق إلى القدوم إليها مرة أخرى لما نراه من الأخوة الصادقة والاهتمام بالعلم عند الإخوة هنا وعندكم جميعا إن شاء الله

فأوصيكم إخوتي في لله أوصي نفسي وإياكم :

أولا: بتقوى الله تعالى والاهتمام بالطاعة والبعد عن الشبهات والشهوات والبعد عن سبيل الشيطان فإن تقوى الله هي النجاة

كما أوصيكم بالاهتمام في العلم والقراءة في الكتب والاجتهاد في ذلك وسماع الأشرطة وشروح الكتب من العلماء المعروفين وليس كل من هب ودب يسمع له ويقرأ في كتبه بل لا بد أن تعرف أن هذا الرجل من أهل العلم الموثوق في علمهم ومنهجهم وعقيدتهم حتى لا تهلك بشبهة يلقيها وأنت لا تلقي لها بالا. فلا بد من زيادة الاهتمام في العلم والتعلم. ثم أوصيكم بالاجتهاد أيضا في تعلم اللغة العربيه , كثير من الإخوة نأتي في كل سنة يكون بنفس المستوى في لغته وهذا حقا تقصير.

طالب العلم لم يتعلم ويتوسع في العلم حتى يتقن اللغة العربية , غالب كتب أهل العلم وأكثرها بهذه اللغة, والقرآن والسنة بهذه اللغة, فلا ننكر جهود الإخوة في الترجمة وغير ذلك لكن هذا لا يغني عن القراءة أو قراءة بكتب اللغة العربية , لأن الترجمة ترجع إلى فقه المترجم وإلى فهمه وإلى حسنه للغة . هذا يتفاوت فيه الناس .

كما أوصيكم بالحرص على التآلف والأخوة فيما بينكم ونصح بعضكم بعضا بالرفق واللين,خاصة بين الإخوة السلفيين والبعد عن أسباب الشقاق والفرقة واالأسباب التي تؤدي إلى انتكاس في الدعوة وضعة في الدعوة , كل ذلك يسببه الاختلاف فيما بيننا , فإن حصل عداء أو خلاف يحاول الطرفان في حله بشتى الطرق والسبل فلا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم بالتنازع تذهب الريح وتذهب الدعوة وتذهب قوة الإسلام والمسلمين

كما أوصيكم بالانتباه من الجمعيات الحزبية لأن اهتمامها في الغالب تركز على المسلمين في خارج بلاد العرب, تركزت جهودها هنا في أندونيسيا وفي الهند وفي باكستان وفي كثير من الدول التي تكون بعيدة عن بلاد العرب يبثون جهودهم حتى يستميلون الناس إلى حزبيتهم وإلى الأهواء خاصة بما عندهم من الفتنة وهي فتنة المال فتأتي جمعية إحياء التراث فتريد أن تأخذ الشباب في هذا البلد وقد أخذت وأخذت أن ذهب معها للدنيا فلم تثمر دعوتهم ولم يتحصل منه إلا الخزي بسبب انخراطه في مسلك التحزب والحزبية التي هي بدعة . وكذلك في الأيام الأخيرة حاولت جمعية البر في الدخول على إخواننا ولكنهم انقدحوا والحمد لله هذه الجمعية أيضا جمعية حزبية شقيقة إحياء التراث وهي التي نصر أبا الحسن المأربي وتدعوه تقيم له المحاضرات في الإمارات فينتبه إلى مثل هذه الحزبية والجمعيات. يقول عبد الله بن المبارك رحمه الله:

(لا تجعل لصاحب بدعة عليك منة فيميل إليه قلبك )

صاحب البدعة إذا جاءك وأعطاك وامتن عليك بأمر وأعطاك من المال وهم في البداية يقولون : نحن لا نريد منك شيئا ولا نريد شروطا ونريد أن نساعدك فقط لكن قليلا قليلا حتى يستدرجونك ويستدرجون دعوتك وتكون منهم تدافع عنهم هذا مشاهد وحاصل وهو الواقع في كثير

فلأن تدرس وتدرس تحت كل شجرة خير لك من أن تهلك مع هذه الحزبيات والجمعيات الهالكة , لن تتحصل لا على علم ولا على دين ولا على سنة فينبغي الحذر من هذه الحزبيات وغيرها

هذه وصية لكم لي ولكم أرجو أن تلقى قبولا واستماعا وأعيد الشكر وأكرره لكم وعلى حرصكم , نسأل الله عز وجل أن يثبتنا وإياكم على السنة , وأن يميتنا ويختم لنا بلا إله إلا الله وأن يتوفانا وإياكم مسلمين وأن يجيرنا بشر الفتن ما ظهر منها وما بطن وهو الشبهات والشهوات نسأل الله أن يعيذنا منها

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Senin, 04 Juli 2011

NASEHAT UNTUK SALAFIYYIN

Oleh : Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari

Bismillahirrohmanirrahiim

Assalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh

Kepada Ikhwah Salafiyyin Al mukhtaramiin

Alhamdulillah washolatu wa salamu ‘ala rosulillah wa’ala alihi wa sohbihi wa man waa lah, Amma ba’du

Perkara yang tidak diragukan lagi bahwa berjihad dengan hujjah dan burhan dalam berdakwah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh, membantah kesyirikan dan kesesatan dengan segala bentuknya, menghancurkan syubhat-syubhat dan melenyapkan fitnah syahwat, adalah amalan yang paling utama. Dengan demikian, maka bangkitlah para ahlul haq di setiap zaman dan tempat mengangkat bendera kebenaran sebagai pembela Agama Alloh, KitabNya, dan RasulNya, menjadi penasehat umat, merealisasikan firman Allah “Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Alloh” (Q.S. Ali Imran:110).

Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam “Akan ada sekelompok dari ummatku mereka nampak diatas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang-orang yang menghinanya tidak pula yang menyelisihinya sehingga datang ketetapan Alloh” (H.R.Bukhari-Muslim)

Akhi barokallahufiik…

”menyampaikan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam ke tengah-tengah ummat adalah lebih afdhol dari pada melemparkan panah ke leher-leher musuh, yang demikian itu hal ini dapat dilakukan semua orang, sedang menyampaikan Sunnah tidak ada yang melakukannya kecuali warosatul anbiya”

Menyampaikan Al-Haq itulah tujuan kita, sementara Alloh Ta’ala berfirman :”Serulah (manusia) ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (Q.S. An-Nahl : 125).

Berkata Ibnu Katsir : “Yakni yang dibutuhkan dari kalangan mereka kepada suatu bantahan (jidal) maka, hendaknya dengan bentuk yang baik, dengan cara yang halus, lemah lembut dan ucapan-ucapan yang baik” (Tafsir AlQur’anul adzim 2/616).

Oleh karena itu barokallahufiik, janganlah antum jadikan perdebatan adalah satu-satunya jalan untuk menyampaikan dakwah dengan hujjah-hujjahmu karena itu bukanlah jalan yang ditempuh salafuna sholih, memaksakan sampainya hujjah-hujjah dengan cara debat adalah tidak benar, sampaikan Al-Haq itu dengan penuh hikmah. Antum harus tahu bahwa para salaf mencela perdebatan karena beberapa hal :
Bila perdebatan itu dilakukan dengan menggunakan argumentasi-argumentasi ilmu kalam dan filsafat
Mereka mencela perdebatan bila yang berdebat keadaannya lemah tidak mampu menolak syubhat-syubhat
Mereka mencela perdebatan bila lawan debat diketahui ngeyel/membangkang, dll (Dar’u ta’arudh al ‘aql wannaql : 7/173)

Maka, tidak sepatutnya antum tenggelam dalam masalah perdebatan dan membuka front perdebatan dalam menyampaikan al Haq. “Alqi kalimataka wamsyi”, sampaikan kalimatmu dan selesai ! Bila ada yang bertanya dan minta penjelasan, sampaikan sebatas ilmu yang antum miliki, ingat Imam Ahmad berkata, “Jangan kamu berbicara tentang suatu permasalahan (agama) kecuali kamu punya pendahulunya.”

Bila ada yang bertanya dalam rangka mendebatmu dalam perkara yang antum tidak tahu ilmunya, tinggalkan! Haram hukumnya berdebat tanpa ilmu, bila suatu masalah itu sudah jelas kebenarannya menurut Kitab dan Sunnah serta paham salaf, kemudian ada yang berupaya untuk membuka front debat, tinggalkan! Haram hukumnya berdebat dalam perkara yang sudah jelas kebenarannya. [Al Faqih Wal Mutafaqih: 2/32-33]

Hendaknya antum persempit medan perdebatan, dan ingat! Tidak semua orang dapat masuk ke dalam medan ini karena perdebatan membutuhkan ketakwaan, keikhlasan, dan lain-lain. Jika perdebatan itu menimbulkan mafsadah yang besar, maka diam adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Demikian dan semoga Allah menunjuki kita kepada apa yang dicintai dan diridhoiNya. Wal ‘ilmu ‘indallah.

Bandung, 18 Februari 2004

Ditulis oleh yang faqir di hadapan Rabbnya.

Abu Hamzah Al Atsary.

Sumber: www.salafy.or.id versi offline

Jumat, 24 Juni 2011

Nasihat Supaya Jangan Memasuki Perkara yang Tidak Bermanfaat

Oleh: Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Orang yang belajar pendidikan agama kadang ia masuk ke dalam perkara yang tidak ada manfaatnya tanpa ia sadari. Dan lebih parah lagi apabila ia masuk ke dalam sebuah perkara yang merupakan makar dari syaithan. Dan di masa ini banyak sekali terjadi di antara para penuntut ilmu, dan ini diingatkan oleh para ulama kita di masa ini.

Makna-makna ini kita dengarkan dari Syaikhuna Muqbil rahimahullâh, Syaikhuna Shalih Al Fauzan hafizhahullâh, Syaikhuna Mufti Saudi Arabia sekarang ini, ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafizhahullâh, Syaikhuna Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullâh, Syaikhuna Syaikh ‘Ubaid Al Jabiri hafizhahullâh, Syaikhuna Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi rahimahullâh; Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullâh, dan banyak lagi dari para ulama kita di masa ini. Semuanya memperingatkan, agar penuntut ilmu di mana pun ia berada berhati-hati dari makar syaithan yang ingin membuat perpecahan di tengah para penuntut ilmu. Dan banyak mereka mengingatkan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa alihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhu,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيْسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّوْنَ فِيْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ بِالتَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ.

“Sesungguhnya syaithan itu sudah berputus asa untuk membuat/menjadikan orang-orang yang sholat di Jazirah Arab menyembahnya, akan tetapi makar yang dilakukan oleh syaithan, ia mengadu domba di antara mereka.”

Karena itulah ikhwani fillâh, hal yang tidak ada manfaatnya, seorang mukmin jangan masuk ke dalamnya. Hal yang ia tidak ada hak berbicara di dalamnya, maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’âlâ. Sebab setiap apa yang diucapkan oleh lisan itu akan dihisab dan dipertanggungjawabkan. Bahkan kadang sebuah ucapan, ia harus mempertanggungjawabkannya dengan pertanggungjawaban yang sangat besar pada hari kiamat.

Kita semua tahu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغُرِبِ

“Sesungguhnya seorang lelaki berbicara dengan sebuah kalimat, dia tidak perjelas kalimat tersebut (apa akibatnya?), kalimat ini menjatuhkan dia ke dalam neraka Jahannam sejauh Timur dan Barat.”

Sejauh Timur dan Barat! Wal iyâdzu billâh.

Dan di hari-hari ini betapa banyak orang-orang yang mengucapkan kalimat-kalimat, dia tidak menyangka bahwa kalimat ini berbahaya, tersebar sampai ke pelosok negeri ke berbagai penjuru, menimbulkan berbagai macam perselisihan, perpecahan, ditunggangi oleh syaithan, sehingga membuat ahlul bid’ah dan ahlul munkarot bergembira dengannya, sedangkan dia tidak menyadarinya.

Karena itu, hendaknya setiap orang bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’âlâ. Dan ia mengingat bahwa hidup ini punya arti, punya makna. Ada hal yang diprioritaskan, ada hal yang hendaknya kita jaga, senantiasa kita renungi. Jangan kita masuk ke dalam sebuah perkara—yang demi Allah—kita tidak ditanya tentang hal tersebut di alam kubur. Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban pada hari Kiamat tentang hal itu. Hendaknya kita mengurus perkara-perkara yang kita harus pertanggungjawabkan di depan Allah subhanahu wa ta’âlâ.

(Ditranskrip dengan penyempurnaan redaksi oleh Muhammad Syarif Abu Yahya dari rekaman dauroh di Masjid Al Fithroh, Terban, Yogyakarta, 30 Dzulhijjah 1430 H/17 Desember 2009

Kamis, 23 Juni 2011

TIDAK SEORANGPUN SELAMAT DARI PEMBICARAAN (KRITIK) maka, Tatsabbutlah (ceknricek)

Penulis : Ust. Jafar Sholeh

Siapa saja yang membaca biografi ulama dan sejarah mereka atau bahkan sejarah manusia seluruhnya tidak mendapati seorang pun yang menonjol kecuali orang-orang berselisih tentangnya. Maka tidakk seorang pun yang menonjol dari ummat ini kecuali diperbincangkan, sebagian memuliakan dan membelanya dan sebagian lainnya merendahkan dan mempersalahkannya.

Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah telah menyebutkan perkataan yang berharga lagi panjang berkenaan dengan hal ini ketika beliau membawakan biografi Al Husain bin Manshur Al Hallaj -semoga Allah membalasnya dengan balasan yang setimpal-, dan bahwasanya ada diantara manusia yang meyakininya sebagai seorang wali padahal ia diantara da'i yang mengajak kepada ilhad (kekufuran) dan zindiq, maka saya akan bawakan perkataan beliau lengkap mengingat pentingnya masalah ini.

((Tidaklah pantas bagi anda wahai faqih untuk tergesa-gesa mengkafirkan seorang muslim kecuali dengan bukti yang qath'i (jelas) sebagaimana tidak dibenarkan bagi anda untuk meyakini ke wali-an seseorang yang telah terbukti penyimpangannya dan tersingkap ke zindiq-kannya. Tidak ini dan tidak pula itu. Bahkan yang adil adalah bahwa seseorang yang dianggap oleh ummat Islam shalih, baik maka ia demikian. Karena ummat Islam adalah saksi-saksi Allah dimuka bumi, karena ummat ini tidak akan bersatu di atas kesesatan. Dan bahwa seseoran yang dianggap oleh ummat Islam jahat atau munafik atau pengekor kebatilan, maka ia demikian.

Dan adapun seseorang yang segolongan ummat ini menyesat-nyesatkannya dan segolongan ummat lainnya memuji dan mengagungkannya dan segolongan ummat yang ketiga bersikap abstain (tawaqquf) dan berhati-hati dari menjatuhkannya, maka orang ini adalah termasuk orang-orang yang sepatutnya (kita) berpaling darinya dan menyerahkan urusannya kepada Allah dan dimohonkan ampunan untuknya, karena islamnya pasti dengan keyakinan sedangkan kesesatannya diragukan. Dengan sikap ini kamu menjadi lega dan hatimu pun bersih dari kebencian kepada sesama mu'minin.

Kemudian ketahuilah bahwa ahli kiblat seluruhnya (ummat Islam), mukmin dan fasiknya, sunni dan mubtadi'nya, kecuali para shahabat, tidak pernah sepakat atas seorang muslim bahwa ia bahagia dan selamat atau celaka dan binasa. Perhatianlah Ash-Shiddiq (Abu Bakar) satu-satunya yang pernah ada pada ummat ini, kamu telah mengetahui bagaimana orang berselisih tentangnya, begitu pula Umar, Utsman dan Ali. Begitu pula Ibnu Zubair, Al Hajjaj, Al Ma'mun dan begitu pula Bisyr Al Mirrisy, Ahmad bin Hambal, Asy-Syafi'i, Al Bukhari dan An-Nasa'i dan selain dari mereka dari tokoh-tokoh kebaikan dan kesesatan sampai harimu sekarang ini.

Maka tidak ada seorang imam yang sempurna dalam kebaikan kecuali disana ada orang-orang jahil dan ahlul bid'ah yang mencelanya dan menjatuhkan kehormatannya. Dan tidak ada seorang pun gembong Jahmiyah dan Rafidhah kecuali ada orang-orang yang membelanya dan meyakini (kebenaran) pendapat-pendapatnya diatas hawa nafsu dan kejahilan. Melainkan yang menjadi ukuran adalah pendapat jumhur yang bersih dari hawa nafsu dan kejahilan yang berhias dengan sifat wara' dan bersandar diatas ilmu.

Maka perhatikanlah oleh engkau wahai hamba Allah ajaran dan madzhab Al Hallaj ini, yang mana ia diantara gembong-gembong Qaramithah dan da'i-da'i yang mengajak kepada zandaqah (zindiq). Bersikap adillah dan jagalah sikap wara', berhati-hati dan hisablah dirimu. Apabila jelas bagimu bahwa sifat-sifat orang ini adalah sifat-sifat musuh Islam, cinta dengan kekuasaan, senang popularitas diatas kebenaran atau kebatilan, maka berlepaslah dari ajarannya. Sedangkan apabila yang jelas bagimu -hanya kepadaNya kita berlindung- bahwa orang ini -dan keadaannya seperti ini- diatas kebenaran, pembawa hidayah dan petunjuk, maka perbaikilah islammu dan mintalah pertolongan Rabmu agar Ia memberimu taufik kepada kebenaran dan mengokohkan hatimu diatas agamaNya, karena sesungguhnya petunjuk itu adalah cahaya yang Allah letakkan dihati hambaNya yang muslim. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Sedangkan apabila engkau ragu dan tidak mengetahui hakikat orang ini dan engkau berlepas diri dari tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya, berarti engkau telah istirahatkan dirimu dan Allah tidak akan bertanya kepadamu tentangnya sama sekali.)) -selesai perkataan Al Imam Adz-Dzahabi- (lihat Siyar 14/343-345)

Sungguh keridha'an seluruh manusia adalah tujuan yang tidak akan tercapai dan tidak ada jalan keselamatan dari mereka seluruhnya.

HUKUM MENGUCAP SALAM KEDUA DIAKHIR SHOLAT BAG. 3

Penulis : Ust. Abu Unaisah Jabir

B. Dalil dan alasan yang mentarjih riwayat rukun atau wajib :

1. Hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim dalam shohihnya (582) dengan lafadz
{ كنت أرى رسول الله صلى الله عليه وسلم يسلم عن يمينه وعن يساره حتى أرى بياض خده
Terjemahannya : { Aku melihat Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mengucap salam kekanan dan kekiri hingga aku melihat putihnya pipi beliau }.
Munaqosyah : Berkata syaikh Ibnu Rojab rohimahulloh : “ hadits ini adalah dari riwayat Abdulloh bin Ja’far al Makhromi, perowi ini hadistnya tidak ditakhrij oleh Al Bukhoriy dalam shohihnya ”.[ Fat-hul Bariy, MSH ]
Dijawab : bahwa Abdulloh bin Ja’far al Makhromiy adalah seorang perowi yang tsiqqoh dan cukup keberadaan Muslim menjadikannya hujjah dalam kitab shohihnya. Adapun keberadaan Al Bukhoriy tidak mentakhrij haditsnya dalam kitab shohihnya maka tidak semua hadits shohih telah ditakhrij oleh beliau dalam kitab shohihnya. Wallohu a’lam
Berkata al Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh : “ telah shohih disisi kami dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dari lebih dari satu jalur periwayatan bahwa beliau senantiasa mengucap salam kekanan dan kekiri hingga terlihat putihnya pipi beliau ”.[ lihat kitab Al Mubdi’ (1 / 417) MFK dan Fat-hul Bariy karya Ibnu Rojab, Kitabush Sholat, Bab at Taslim, MSH ]

2. Hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu riwayat Muslim dalam shohihnya (581) dengan lafadz :
{ عن أبي معمر أن أميرا كان بمكة يسلم تسليمتين ، فقال عبد الله _ يعني ابن مسعود _ : أنـى عقلها ، إن رسول الله كان يفعله }
Terjemahannya : { dari Abu Ma’mar bahwa seorang penguasa di Makkah mengucap dua salam dalam sholatnya maka Abdulloh bin Mas’ud keheranan menyatakan : dari siapa dia belajar tata cara ini ? sesungguhnya Rasululloh senantiasa melakukannya }.
Munaqosyah : berkata syaikh Ibnu Rojab rohimahulloh : “ hadits ini telah diperselisihkan oleh para pakar hadits dari segi kemarfu’an dan kemauqufannya ”.
Dijawab : berkata syaikh Ibnu Rojab melanjutkan komentarnya terhadap hadits ini : “ Muslim mentakhrij hadits ini dengan kedua segi tersebut ” maknanya, bahwa baik riwayat yang marfu’ maupun yang mauquf kedua – duanya adalah shohih dan benar sehingga salah satu dari keduanya tidaklah menjadi ‘illah bagi yang lain, keadaan sedemikian ini sering didapati dalam riwayat – riwayat. Wallohu a’lam

3. Hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu riwayat Ahmad dalam Musnadnya (3699) Abu Dawud dalam sunannya (996) At Tirmidzi dalam jami’nya (295) An Nasa’iy dalam sunannya (1325) dengan lafadz :
{ أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يسلم عن يمينه السلام عليكم ورحمة الله وعن يساره السلام عليكم ورحمة الله }
Terjemahannya : { Bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam beliau senantiasa mengucap salam kekanan Assalamu’alaikum warohmatulloh dan kekiri Assalamu’alaikum warohmatulloh }.
Munaqosyah : Berkata syaikh Ibnu Rojab rohimahulloh : “ hadits ini diriwayatkan dengan ragam perbedaan dalam sanad – sanadnya yang berporos pada salah satu perowinya yaitu Abu Ishaq juga diperselisihkan dari segi kemarfu’an dan kemauqufannya, adalah Syu’bah beliau mengingkari jika hadits ini marfu’ ”.[ Fat-hul Bariy karya Ibnu Rojab, MSH ]
Dijawab : Bahwa beberapa ulama pakar hadits telah menghukumi shohih riwayat yang marfu’ dari hadits ini diantaranya adalah At Tirmidzi rohimahulloh dalam Jami’nya (295) dan Al ‘Uqoiliy rohimahulloh.
Berkata Al ‘Uqoiliy rohimahulloh : “ Hadits – hadits yang shohih dari Ibnu Mas’ud dan dari Sa’ad bin Abi Waqqosh serta dari selain keduanya adalah dalam mengucap dua salam, dan tidaklah shohih satu haditspun bahwa beliau mengucap salam hanya satu kali ”.[kitab Dhu’afa’ (1 / 195) lihat kitab Mustadrokut Ta’lil (187)].

4. Hadits Jabir bin Samuroh rodhiyallohu ‘anhu riwyat Muslim dalam shohihnya (581) dengan lafadz
{ إنما يكفي أحدَكم أن يضع يده على فخذه ثم يسلم على أخيه من على يمينه وشماله }
Terjemahannya : { cukup bagi seorang dari kalian untuk meletakkan tangannya diatas pahanya kemudian ia mengucap salam kepada saudaranya yaitu siapa yang berada disebelah kanannya dan sebelah kirinya }.
Berkata syaikh Muhammad Ibnul Utsaimin rohimahulloh : “ mereka menyatakan : sesungguhnya apa yang kurang dari kadar mencukupi maka tidaklah mengesahkan ”.[ Asyarhul Mumti’ (3 / 211) MFK]
Munaqosyah umum terhadap dalil – dalil diatas : Bahwa hadits – hadits tersebut dari bentuk perbuatan yang tidak sampai kepada tingkatan menunjukkan wajib.
Dijawab : Berkata syaikh Ibnu Rojab rohimahulloh : “sekelompok dari ahlul ilmi tersebut berpendapat bahwa seseorang tidaklah selesai dari sholatnya melainkan dengan mengucap kedua salam seluruhnya, pendapat ini diriwayatkan dari Al Hasan bin Haiy, salah satu riwayat dari dua pendapat al Imam Ahmad, sebagian ulama madzhab Malikiyyah dan sebagian ulama madzhab dzohiriyyah. Mereka berdalilkan dengan hadits { وتحليلها التسليم } mereka menyatakan : mengucap salam dalam hadits ini diarahkan kepada apa yang diketahui dari perbuatan beliau sholallohu ‘alaihi wasallam yang senantiasa beliau kerjakan yaitu mengucap dua salam. Mereka juga berdalilkan dengan hadits (( صلوا كما رأيتموني أصلي )) terjemahannya : { sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatku } dan sungguh beliau senantiasa mengucap dua salam dalam sholatnya ”.[ Fat-hul Bariy karya Ibnu Rojab, MSH ]
Berkata syaikh Muhammad Ibnul ‘Utsaimin rohimahulloh : “ Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakan mengucap dua salam baik dalam keadaan mukim atau safar lagi disaksikan oleh orang – orang kota, orang – orang badu, orang alim dan jahil, serta sabda beliau (( صلوا كما رأيتموني أصلي )) terjemahannya : { sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat sholatku }, kesemuanya ini menunjukkan bahwa mengucap keduanya adalah satu keharusan ”.[ Asyarhul Mumti’ (3 / 211) MFK]

5. Adapun alasan secara nadzoriy maka berkata Zainuddin Al Munajja rohimahulloh : “ Adapun keberadaan mengucap salam kedua adalah wajib dalam satu riwayat maka berdasar . . . dan karena sholat adalah ibadah yang disyari’atkan didalamnya dua tahallul maka keduanya ( salam pertama dan kedua ) adalah wajib sebagaimana ibadah haji, juga dikarenakan salam kedua merupakan salah satu dari dua salam maka mengucapnya adalah wajib sebagaimana yang pertama ”.[kitab Al Mumti’ Fie Syarhil Muqni’ (1 / 478) cet. Maktabah al Asadiy] pernyataan senada juga diucapkan oleh syaikh Muhammad bin Ahmad As Safariniy rohimahulloh dalam Kasyful Litsamnya (2 / 326).
Kesimpulan secara umum bahwa dengan melihat dalil serta alasan masing – masing berikut munaqosyah terhadapnya maka nampak akan kuatnya pendapat yang menyatakan rukun atau wajib, dan perlu diketahui bahwa pendapat ini merupakan mufrodat madzhab ( pendapat madzhab yang menyelisihi tiga madzhab ; Abu Hanifah, Malik dan Syafi’iy ) sebagaimana disebutkan oleh syaikh Ali Al Mardawiy rohimahulloh dalam Al Inshofnya, syaikh Manshur Al Buhutiy rohimahulloh dalam Al Minahusy Syafiyat Bisyarh Mufrodat (223) cet. Kunuz Isybiliya dan diisyaratkan oleh syaikh Yusuf Ibnu Abdil Hadi rohimahulloh dalam Mughniy Dzawil Afhamnya (108) cet. Maktabah Adhwa’us Salaf .

III. Faedah “ Hikmah dan Makna Salam ”
Berkata syaikh Muhammad bin Ahmad As Safariniy Al Hambaliy rohimahulloh : “ { dan beliau sholallohu ‘alaihi wasallam senantiasa menutup sholatnya dengan mengucap salam } maka mengucap salam beliau jadikan sebagai tahallul untuk sholatnya, seorang yang mengerjakan sholat keluar dengannya dari sholatnya sebagaimana seorang yang mengerjakan manasik haji keluar dari hajinya dengan tahallul. Jadilah tahallul sholat ini sebagai doa dari sang imam teruntuk siapa saja yang bermakmum dibelakangnya, doa keselamatan yang ia merupakan dasar segala kebaikan dan azasnya. Hingga disyariatkanlah tahallul ini atas siapa saja yang bermakmum semisal dengan tahallulnya sang imam, didalam hal itu terkandung doa kebaikan untuk dirinya serta untuk orang – orang yang sholat bersamanya, doa keselamatan. Kemudian hal itu disyariatkan atas setiap orang yang mengerjakan sholat meskipun ia sendirian, maka tidak ada tahallul sholat yang lebih indah dibanding tahallul ini sebagaimana tidak ada yang lebih indah dibanding takbir sebagai tahrim untuknya. Jadi, tahrimnya adalah bertakbir kepada Alloh yang terkumpul didalamnya penetapan segala kesempurnaan untukNya, terkumpul didalamnya pensucianNya dari segala cacat dan kekurangan, terkandung didalamnya ketunggalan dan kekhususanNya akan hal itu juga pengagungan terhadapNya dan pemuliaan atasNya. Sehingga, takbir terkandung didalamnya perincian gerakan sholat, dzikir – dzikir sholat serta tata-cara sholat, jadi sholat sedari awalnya hingga berakhirnya adalah merupakan perincian bagi kandungan lafadz Allohu Akbar, sehingga tidak ada sesuatu yang lebih indah dibandingkan tahrim ini ! tahrim yang berisikan pengikhlasan dan tauhid. Lagi tidak ada sesuatu yang lebih indah dibanding ucapan salam sebagai tahallulnya, tahallul yang berisikan perbuatan kebajikan seseorang kepada saudara – saudaranya kaum mukminin ! kesimpulannya ; bahwa sholat dibuka dengan pengikhlasan dan ditutup dengan perbuatan kebajikan ”. [kitab Kasyful Litsam (2 / 326 – 327) cet. Nuruddin Tholib, Kuwait]

والله أعلم وصلى الله على محمد وعلى آله وسلم والحمد لله

sumber : www.manarussunnah.blogspot.com

HUKUM MENGUCAP SALAM KEDUA DIAKHIR SHOLAT BAG. 2

Penulis : Ust. Abu Unaisah Jabir

Dalil dan alasan yang diisyaratkan oleh masing – masing berikut munaqosyah atasnya adalah sbb :

A. Dalil dan alasan yang mentarjih riwayat sunnah :

1. Hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha riwayat Ahmad didalam Musnadnya (6 / 236) dengan lafadz
{ ثم يجلس فيتشهد ويدعو ثم يسلم تسليمة واحدة: السلام عليكم يرفع بها صوته حتى يوقظنا } الحديث
Terjemahannya : { . . . kemudian beliau duduk dan membaca tasyahud serta berdoa kemudian mengucap salam dengan sekali salam : assalamu’alaikum, beliau mengeraskan ucapan salamnya hingga membangunkan kami } dst.
Berkata syaikh Al Albaniy rohimahulloh : “ ini adalah sanad yang shohih ”.[kitab Irwa’ul Gholil (2 / 33 )]
Munaqosyah : 1. Lafadz yang shohih untuk hadits Aisyah ini adalah { يسلم تسليما يسمعناه } terjemahannya { mengucap salam yang beliau memperdengarkannya kepada kami } dengan alasan bahwa ini adalah riwayat Muslim dalam shohihnya (746), 2. Bahwa kebanyakan perowi hadits Aisyah meriwayatkannya dengan lafadz ini dan 3. Bahwa sanad tershohih dari antara sanad – sanad hadits ini adalah dengan lafadz ini, 4. Juga diniqosy dengan keputusan al Imam Ahmad yang mengarahkan hadits ini dengan bahwa beliau sholallohu ‘alaihi wasallam mengeraskan ucapan salam yang pertama dan memelankan ucapan salam yang kedua.[ lihat kitab Mustadrokut Ta’lil (187 – 190) karya syaikh DR. Ahmad Muhammad Al Kholil dan kitab Fat-hul Bariy Syarh Shohihil Bukhoriy karya syaikh Abdurrohman Ibnu Rojab Al Hambaliy, bab at Taslim, MSH ]
Munaqosyah kedua : Bahwa kejadian dalam hadits Aisyah tersebut andaikan shohih dengan satu kali salam maka itu hanyalah kejadian sekali sehingga tidak dapat diperluas hukum yang ditunjukkan olehnya dan tidak dapat menandingi hadits yang berupa ucapan.[lihat kitab Asyarhul Mumti’ karya syaikh Muhammad Ibnul ‘Utsaimin rohimahulloh (3 / 213) MFK]
Kesimpulan : Atas dasar munaqosyah diatas maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan dalil dalam permasalahan ini. Wallohu a’lam

2. Hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha riwayat At Tirmidzi dalam Jami’nya (296) dan Ibnu Majah (919) dengan lafadz
{ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يسلم فى الصلاة تسليمة واحدة تلقاء وجهه , يميل إلى الشق الأيمن شيئا }
Terjemahannya : { Bahwa rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mengucap salam dalam sholatnya dengan sekali salam menghadap kedepan dengan sedikit menoleh kearah kanan }.
Berkata syaikh Al Albaniy rohimahulloh : “ berkata Al Hakim : shohih sesuai persyaratan dua syaikh, disetujui oleh Dzahabiy dan Ibnul Mulaqin dalam Khulashoh ”.[kitab Irwa’ul Gholil (2 / 33)]

Munaqosyah : 1. Hadits ini adalah mungkar dengan alasan bahwa ia dari jalur periwayatan penduduk Syam dari Zuhair bin Muhammd, jalur ini adalah mungkar. 2. Riwayat Amr bin Abi Salimah dari Zuhair bin Muhammad dinyatakan oleh al Imam Ahmad sebagai riwayat – riwayat yang batil atau palsu dan beliau memasukkan hadits ini dalam kelompok riwayat – riwayat tersebut. 3. Abu Hatim merojihkan bahwa hadits ini adalah mauquf. [ lihat kitab Fat-hul Bariy karya Ibnu Rojab al Hambaliy, bab at taslim, MSH ]

Kesimpulan : Atas dasar munaqosyah diatas maka hadits ini tidak dapat dijadikan pendukung maupun dalil dalam permasalahan ini. Wallohu a’lam

3. Hadits Sahl bin Sa’ad rodhiyallohu ‘anhu riwayat Ibnu Majah dalam sunannya (918) dengan lafadz
{ أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يسلم تسليمة واحدة لا يزيد عليها }
Terjemahannya : { Bahwa ia mendengar rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mengucap salam dengan satu kali salam tidak lebih atasnya }.
Munaqosyah : Hadits ini adalah lemah sekali sebab fatalnya kelemahan salah satu perowinya yang bernama Abdul Muhaimin bin Abbas. [ lihat kitab Syarhu Sunan Ibni Majah karya Al Mughlathoiy (1 / 1555) MSH dan kitab Mustadrokut Ta’lil (194) cet. Dar Ibnul Jauziy ]

Kesimpulan : Atas dasar munaqosyah diatas maka hadits ini tidak dapat dijadikan dalil dalam permasalahan ini. Wallohu a’lam

4. Hadits Salamah bin Al Akwa’ rodhiyallohu ‘anhu riwayat Ibnu Majah dalam sunannya (920) dengan lafadz
{ رأيت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صلى فسلم مرة واحدة }
Terjemahannya : { Aku melihat rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam sholat maka beliau mengucap salam satu kali }.
Berkata syaikh Al Mughlathoiy rohimahulloh : “ hadits ini sanadnya adalah shohih ”.[Syarh Sunan Ibnu Majah (1 / 1557) Mauwsu’ah Syuruh Hadits]
Munaqosyah : Hadits ini adalah lemah sekali disebabkan fatalnya kelemahan salah satu perowinya yang bernama Yahya bin Rosyid al Muzaniy. [ lihat Mustadrokut Ta’lil (194) ]
Dibantah : Dengan pernyataan Al Bukhoriy dalam kitab Tarikh Kabirnya tentang Yahya bin Rosyid al Muzaniy bahwa dia adalah perowi yang tsiqqoh. [ lihat Syarhu Sunan Ibni Majah karya Al Mughlathoiy (1 / 1557) ]
Dijawab : Bahwa penukilan Al Mughlathoiy adalah tidak benar namun yang dihukumi tsiqqoh oleh Al Bukhoriy adalah perowi yang lain yaitu Abu Bakr mustamlinya Abi ‘Ashim. Hal ini ditegaskan oleh syaikh Abdurrohman Al Mu’allimiy dalam tahqiqnya atas Tarikh Kabir, didukung pula bahwa Al Mizziy dan Ibnu Hajar tidak menyebut pentsiqohan Al Bukhoriy terhadap Yahya bin Rosyid ini dalam kitab keduanya. [ lihat catatan kaki Mustadrokut Ta’lil (195) ]

Kesimpulan : Atas dasar munaqosyah diatas maka hadits ini tidak dapat dijadikan dalil dalam permasalahan ini. Wallohu a’lam

Selain beberapa hadits diatas masih terdapat beberapa hadits lain yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama madzhab yang merojihkan riwayat ini namun secara ringkasnya pendalilan dengan hadits – hadits tersebut diniqosy dengan pernyataan para pakar hadits diantaranya :

a. Berkata al Imam Ahmad bin Hambal rohimahulloh : “ telah shohih disisi kami dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dari lebih dari satu jalur periwayatan bahwa beliau senantiasa mengucap salam kekanan dan kekiri hingga terlihat putihnya pipi beliau ”.[ lihat kitab Al Mubdi’ (1 / 417) MFK dan Fat-hul Bariy karya Ibnu Rojab, Kitabush Sholat, Bab at Taslim, MSH ]

b. Berkata al Hafidz Abdurrohman Ibnu Rojab al Hambaliy rohimahulloh : “ Dan telah diriwayatkan dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengucap salam dalam sholatnya hanya satu kali, diriwayatkan dengan banyak sanad namun tidak ada satupun darinya yang shohih sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Ibnul Madiniy, Al Atsrom, Al Uqoiliy serta yang lain ”.[kitab Fathul Bariy syarh Shohihil Bukhoriy, kitabus sholat, bab (152) taslim, Mauwsu’ah Syuruh Hadits I]

c. Berkata syaikh Muhammad As Safariniy al Hambaliy rohimahulloh : “ Adapun hadits mengucap salam hanya satu kali maka ia adalah hadits yang ma’lul ( yi.lemah ) sebagaimana dijelaskan oleh Al ‘Uqoiliy dan Ibnu Abdul Barr, Ibnu Abdul Barr memaparkannya panjang lebar akan hal tersebut ”.[kitab Kasyful Litsam (2 / 328)]

d. Berkata Al ‘Uqoiliy rohimahulloh : “ Hadits – hadits yang shohih dari Ibnu Mas’ud dan dari Sa’ad bin Abi Waqqosh serta dari selain keduanya adalah dalam mengucap dua salam, dan tidaklah shohih satu haditspun bahwa beliau mengucap salam hanya satu kali ”.[kitab Dhu’afa’ (1 / 195) lihat kitab Mustadrokut Ta’lil (187)].

5. Diantara dalil yang disebut - sebut adalah ijma’ yang dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir.
Munaqosyah : Berkata syaikh Abdurrohman Ibnu Rojab Al Hambaliy rohimahulloh : “ Para ulama yang berpendapat wajibnya mengucap dua salam kebanyakan mereka berpandangan akan keabsahan sholat seseorang yang hanya mengucap satu salam, hal ini disebutkan oleh Ibnul Mundzir sebagai ijma’ dari kalangan ahlul ilmi. Namun sekelompok dari ahlul ilmi tersebut berpendapat bahwa seseorang tidaklah selesai dari sholatnya melainkan dengan mengucap kedua salam seluruhnya, pendapat ini diriwayatkan dari Al Hasan bin Haiy, salah satu riwayat dari dua pendapat al Imam Ahmad, sebagian ulama madzhab Malikiyyah dan sebagian ulama madzhab dzohiriyyah ”. [lihat kitab Fat-hul Bariy karya Ibnu Rojab ]
Kesimpulan : Bahwa dakwaan ijma’ atas kesunnahan mengucap salam kedua dalam sholat fardhu adalah perlu untuk dikaji ulang. Wallohu a’lam

Berkata syaikh Abul Hasan Ali bin Sulaiman Al Mardawiy rohimahulloh mengomentari penghikayatan ijma’ oleh Ibnul Mundzir dalam permasalahan ini : “ Saya katakan : ini adalah berlebih – lebihan dari beliau (Ibnul Mundzir), tidak terdapati ijma’ dalam hal ini. Berkata Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim : dan ini merupakan kebiasaan beliau (Ibnul Mundzir) yaitu jika beliau melihat pendapat kebanyakan ulama maka beliau akan menghikayatkannya sebagai ijma’ ”.[kitab Al Inshof (2 / 85) MFK].

Bersambung, Insya Allah....................................................

Sumber : www. manarussunnah.blogspot.com

HUKUM MENGUCAP SALAM KEDUA DIAKHIR SHOLAT BAG. 1

Penulis : Ust. Abu Unaisah Jabir

Sesungguhnya diantara letak pertanyaan dikalangan penuntut ilmu seputar fikih sholat adalah hukum mengucap salam kedua diakhir sholat fardhu, maka dengan memohon taufiq kepada Alloh ‘azza wa Jalla kami berusaha untuk memaparkan diruang ini pembahasan tersebut dengan nukilan – nukilan dari para ulama madzhab Rohimahumulloh Wallohul Hadi Ilash showab.
Berkata Muwaffaquddien Abdulloh bin Qudamah al Maqdasiy rohimahulloh : “ Pasal ; Dan adapun yang wajib adalah mengucap salam yang pertama sedangkan salam yang kedua maka hukum mengucapnya adalah sunnah dengan dalil bahwa Aisyah, Sahl bin Sa’ad dan Salamah bin al Akwa’ mereka telah meriwayatkan bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam sholat lalu beliau mengucap salam hanya satu kali, juga dengan alasan bahwa ini adalah perkara ijma’ sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir. Riwayat pendapat kedua dari al Imam Ahmad : bahwa mengucap salam yang kedua hukumnya adalah wajib dengan dalil bahwa Jabir telah berkata : bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda
إنما يكفي أحدَكم أن يضع يده على فخذه ثم يسلم على أخيه من على يمينه وشماله
Terjemahannya : { cukup bagi seorang dari kalian untuk meletakkan tangannya diatas pahanya kemudian ia mengucap salam kepada saudaranya yaitu siapa yang berada disebelah kanannya dan sebelah kirinya } riwayat Muslim, juga dengan alasan bahwa sholat merupakan sebuah ibadah yang memiliki dua tahallul sehingga tahallul yang keduapun hukumnya adalah wajib seperti dalam haji ”.[ kitab Al Kafi (95) cet. Dar Ibnu Hazm]
Berkata syaikh Zainuddin Al Munajja rohimahulloh : “ Dan yang shohih didalam madzhab bahwa seluruh apa yang telah disebutkan adalah wajib kecuali mengucap salam kedua . . . adapun mengucap salam yang kedua maka Al Qodhi rohimahulloh menyatakan : riwayat itulah yang lebih shohih, artinya bahwa riwayat yang menetapkan hukum wajibnya mengucapkan salam kedua itulah yang lebih shohih dengan dalil hadits Jabir bin Samuroh juga dengan alasan bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam mengerjakannya dan senantiasa terus mengerjakannya. Berkata penulis ( Ibnu Qudamah rohimahulloh ) dalam kitabnya Al Mughniy : yang shohih bahwa mengucap salam kedua adalah sunnah dengan dalil bahwa diriwayatkan dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam beliau mengucap satu kali salam demikian pula para Muhajirun, hal ini menunjukkan akan ketidak wajibannya. Adapun apa yang diriwayatkan bahwa beliau sholallohu ‘alaihi wasallam mengucap dua salam maka dibawa kepada hukum sunnah agar didapatkan pengkompromian antara kedua perbuatan beliau ”.[ kitab Al Mumti’ Fisyarhil Muqni’ (1 /480) cet. Maktabah Al Asadiy]
Berkata Syaikh Abu Ishaq Ibrohim Ibnu Muflih rohimahulloh : “ Dan riwayat – riwayat yang paling shohih dari Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam adalah mengucap dua salam . . . berkata Ahmad : Telah shohih disisi kami lebih dari satu jalur periwayatan bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam adalah mengucap salam kekanan dan kekiri hingga terlihat putihnya pipi beliau ”.[kitab Al Mubdi’ Syarhul Muqni’ (1 / 417) Mauwsu’ah Fiqhiyyah Kubro III]
Berkata Syaikh Ibnu Najjar rohimahulloh : “ Yang ke-tiga belas dari rukun – rukun sholat adalah mengucap dua salam ”.[ kitab Ma’unatu Ulin Nuha Syarh Muntahal Irodat (2 / 203) cet. Maktabah al Asadi]
Berkata syaikh Muhammad As Safariniy rohimahulloh : “ Pendapat yang dipegang oleh madzhab adalah keharusan mengucap dua salam dalam sholat fardhu ”.[kitab Kasyful Litsam Syarh ‘Umdatil Ahkam (2 / 328) cet. Nuruddin Tholib, Kuwait]
Kesimpulan :
I. Mengucap salam diakhir sholat hukumnya adalah wajib termasuk rukun sholat menurut madzhab, ini adalah perkara yang disepakati dengan merujuk kepada kitab – kitab fikih madzhab pada sesi pemaparan rukun – rukun sholat.

Dalil – dalil dan alasan yang disebutkan dan diisyaratkan oleh para ulama madzhab rohimahumulloh bahwa mengucap salam hukumnya wajib diantaranya ;
1. Hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha riwayat Muslim dalam Shohihnya (498) dengan lafadz :
{ وكان يختم الصلاة بالتسليم }
Terjemahannya : { dan beliau sholallohu ‘alaihi wasallam senantiasa menutup sholatnya dengan mengucap salam }.
2. Hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu riwayat Ahmad dalam Musnad (1/123) Abu Dawud dalam Sunannya (61) Tirmidzi dalam Jami’nya (3) dan Ibnu Majah dalam Sunannya (275) dengan lafadz :
{ مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم }
Terjemahannya : { kunci Sholat adalah bersuci, pengharamnya dari pekerjaan – pekerjaan diluar sholat adalah bertakbirotul ikhrom dan penghalalnya untuk perkara – perkara diluar sholat adalah mengucap salam }.
Berkata syaikh Muhammad bin Ahmad As Safariniy rohimahulloh : “ Hadits ini ditakhrij oleh para penulis kitab sunan dengan sanad yang hasan ”.[kitab Kasyful Litsam Syarh ‘Umdatil Ahkam (2 / 328) cet. Nuruddin Tholib, Kuwait]
3. Adapun alasan secara nadzor, maka berkata Ibnu Qudamah rohimahulloh : “ Karena mengucap salam merupakan salah satu dari dua ujung sholat maka didalamnya terdapati ucapan yang wajib seperti didalam ujung yang pertama ”.[kitab Al Kafiy (95)]

II. Mengucap salam kedua hukumnya adalah diperselisihkan dikalangan ulama madzhab yaitu antara rukun atau wajib atau sunnah atau sunnah dalam sholat nafilah saja, keempat pendapat ini merupakan empat riwayat dari al Imam Ahmad rohimahulloh. [lihat kitab Al Inshof karya syaikh Abul Hasan Ali bin Sulaiman Al Mardawiy rohimahulloh (2 / 84 – 85) MFK]

Bersambung Insya Allah..............................................

Sumber : www.manarussunnah.blogspot.com

Minggu, 19 Juni 2011

SEBAB-SEBAB MUNCULNYA TERORISME (DASAR-DASAR POKOK MANHAJ TERSELUBUNG BAG-1B).

Dan simak juga ucapan salah satu tokoh mereka, DR. Safar Al-Hawaly, dimana ia berkata dalam bukunya Wa’du Kaisanjar (Janji Kissinger) hal. 138 -salah satu buku idola Imam Samudra-, “Sesungguhnya apa yang menimpa kita, hal tersebut hanyalah karena perbuatan tangan-tangan kita sendiri, apa yang kita lakukan berupa dosa dan maksiat, keluar dari syari’at Allah, terang-terangan dalam melakukan apa yang diharamkan oleh Allah, loyalitas kepada musuh-musuh Allah, menyepelekan hak-Nya, dan kurang dalam dakwah di jalan Allah. Telah berserikat dalam hal tersebut pemerintah, rakyat, seorang alim, yang jahil, yang kecil, yang besar, laki-laki, dan perempuan dengan ada bentuk perbedaan antara mereka…

Sungguh telah nampak kekufuran dan ilhad di koran-koran kita, tersebar kemungkaran di tengah-tengah kita, dan kita diseru kepada perzinaan di radio dan telivisi kita serta kita telah membolehkan riba hingga bank-bank negara-negara kafir tidaklah jauh dari rumah Allah yang terhormat (ka’bah) kecuali hanya beberap langka yang terhitung. Adapun berhukum kepada syari’at, itu adalah seruan klasik. Yang haq, sungguh tidak tersisa di tengah kita dari syari’at kecuali apa yang dinamakan oleh para pengikut hukum thogut buatan manusia sebagai ‘kondisi-kondisi pribadi’ dan sebagian hukum-hukum had yang hanya diinginkan untuk menertibkan keamanan.[6]”

Perhatikan ucapan orang yang tidak tahu diri dan tidak pernah mengingat berbagai kebaikan dan nikmat yang ia dapatkan dari negeri haramain (KSA). Dan betapa besar musibah yang menimpa umat tatkala orang-orang sepertinya menjadi rujukan dan idola anak-anak muda yang tabiatnya condong kepada semangat belaka dan mengikuti perasaan tanpa ilmu.

Demikianlah komentarnya terhadap pemerintahan Saudi Arabia, entah bagaimana sikapnya terhadap pemerintah-pemerintah lainnya.

Dan semisal dengannya, seorang tokoh lain yang disebut dengan nama Salman Al-‘Audah[7] -sebagian makalahnya telah menjadi pembukaan buku Imam Samudra “Aku melawan teroris”-, ketika ia ditanya dengan nash “Tidak luput dari pengamatan anda tentang peraturan di Libya dan apa yang terkandung padanya berupa peperangan terhadap Islam dan kaum muslimin. Apa kewajiban kaum muslimin di sana? Ataukah mereka sebaiknya lari membawa agamanya?”, ia menjawab, “Ini terjadi pada setiap negara.[8]”

Dan tidak kalah bejatnya ucapan lainnya, “Masyarakat-masyarakat Islam berada di suatu lembah dan para pemerintahnya berada di lembah lain. Karena mereka tidaklah melukiskan hakikat perasaan-perasaan masyarakat Islam yang berada di hati mereka dan mereka tidak melaksanakan hakikat agama yang mereka bernisbat kepadanya.[9]”

Dan simak pula ucapannya yang tidak memperkecualikan siapapun, “Bendera-bendera yang terangkat di alam Islam pada hari ini -panjang dan lebarnya-, semuanya adalah bendera sekularisme.[10]”

Maksud dan buah dari ucapan-ucapan di atas sama dengan Ucapan Muhammad Surur dan Safar Al-Hawaly. Dan jangan heran, mereka memang satu aliran di bawah bendera mafia terorisme.

Dan tidak kalah gilanya, ucapan tokoh pembuat kerusakan dan teror di masa ini, yaitu Usamah bin Ladin[11]. Ia berkata dalam wawancaranya bersama Al-Jazirah pada tanggal 5/12/1423 H (7/2/2003 M), “Perselisihan kita dengan para penguasa bukanlah pada masalah cabang yang mungkin bisa diselesaikan. Sesungguhnya kami hanya berbicara tentang dasar Islam syahadat ‘Lâ Ilâha Illallâhu Wa Anna Muhammadan Rasulullâh’, sedang para penguasa itu telah membatalkan syahadat tersebut dari dasarnya dengan loyalitas mereka kepada orang-orang kafir, mereka men-tasyrî’ (mensyari’atkan) hukum-hukum buatan, dan membenarkannya serta mereka berhukum kepada hukum-hukum Amerika Serikat. Maka kepemimpinan mereka telah gugur secara syari’at dari semenjak dahulu sehingga tiada jalan untuk tinggal dibawahnya.[12]”

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn, semoga Allah memberikan pahala yang besar dalam musibah yang menimpa kita ini.

Dan guru kami, ahli hadits dan mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullâh, dalam cacatan keempat belas beliau menjelaskan sebagian dari lembaran-lembaran hitam gerakan Ikhwanul Ikhwanul Muslimin dan tokoh-tokohnya, beliau menyebutkan bahwa di antara kebiasan mereka adalah “menelusuri dan mencari-cari kesalahan penguasa untuk membuat itsârah (keonaran, kebencian, kerusakan) terhadap mereka.[13]”

Dan apa yang beliau sebutkan sangat benar dan mencocoki kebenaran. Silahkan baca dan telaah buku-buku mereka niscaya engkau akan menemukannya. Andaikata bukan karena kekhawatiran tulisan ini menjadi panjang maka tentu kami akan merincinya. Dan cukuplah bagi kita di Indonesia majalah mereka “Majalah Sabili” yang sarat dengan hal tersebut.

[1] Terpetik dari ceramah yang berjudul “Al-Manhaj Al-Khafiy wa Atsruhu fii Shonâ’atil Irhâb (Manhaj terselubung dan pengaruhnya dalam memproduksi terorisme)” oleh Syaikh Sulthôn bin ‘Abdurrahmân Al-‘Ied hafizhohullâh dan ceramah “Al-Marâhil Al-Mu`addiyah Ilat Tafjîr” oleh DR. Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily hafizhohullâh.

[2] Hadits ‘Auf bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim no. 1855.

[3] Majalah As-Sunnah edisi 26 tahun 1413H hal. 2-3. dengan perantara kitab Al-Quthbiyah hal. 86. Dan kitab Al-Quthbiyah adalah salah buku yang sangat ilmiyah dalam menjelaskan kesalahan-kesalahan ideologi sejumlah tokoh pembela dan pelaris pemikiran Sayyid Quthub. Hingga hari, tidak seorang pun dari mereka yang mampu membantah kitab ini, selain suara-suara sumbang yang meneriakkan bahwa penulisnya adalah orang yang tidak dikenal, memakai nama samaran…dst dari teriakan-teriakan klasik orang-orang yang telah kehabisan pena dan argumen. Ketahuilah bahwa penulisnya adalah seorang Doktor dan Alim yang sangat berakhlak di kota Madinah serta dikenal di kalangan para ulamanya. Dan juga andaikata penulisnya tidak diketahui, maka yang menjadi ukuran adalah data dan bukti ilmiyah yang sangat otentik lagi akurat yang terdapat padanya.

[4] Majalah As-Sunnah edisi 43 Jumadits Tsani tahun 1415H hal. 27-29. dengan perantara Al-Quthbiyah hal. 87.

[5] Dan dalam buku “MEMBONGKAR JAMAAH ISLAMIYAH, Pengakuan Mantan Anggota JI” karya Nasir Abas hal. 165, ada penyebutan kamp latihan Al-Fatah milik kelompok Wahdah Islamiyah di Moro, Filipina. Dan ada beberapa hal lain tentang kelompok ini, semoga Allah memberi kemudahan untuk menjelaskannya dalam sebuah buku tersendiri.

[6] Dengan perantara Al-Quthbiyah hal. 90.

[7] Syaikh Ibnu Baz rahimahullâh pernah ditanya “Apakah ada catatan-catatan atau kesalahan-kesalahan pada Salman Al-‘Audah dan Safar Al-Hawaly?” Beliau menjawab, “Iya, iya. Mereka berpandangan jelek terhadap penguasa, berpahaman jelek terhadap negara, mengobarkan (semangat jelek) pada anak-anak muda dan memanas-manasi hati masyarakan umum. Dan ini termasuk manhaj (metodologi) kaum Khawarij. Kaset-kaset mereka mewahyukan hal tersebut.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Wahai Syaikh, apakah hal tersebut telah mengantar mereka ke suatu bid’ah” Beliau menjawab, “Tidak diragukan bahwa ini adalah bid’ah yang merupakan kekhususan kaum Khawarij dan Mu’tazilah. Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka, semoga Allah memberi hidayah kepada mereka.” Di antara ulama besar yang pernah saya jumpai dan pernah memberikan catatan-catatan terhadap Salman Al-‘Audah dan Safar Al-Hawaly adalah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Sholih Al-Fauzân, Syaikh Muqbil, Syaikh Ahmad An-Najmy, Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly, Syaikh Rabi’ Al-Madkhaly dan Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad. Beberapa catatan mereka bisa dibaca pada tulisan dengan judul “Ithâful Basyr Bi Kalâmil Ulamâ` Fi Safar wa Salmân” dari www. Sahab.net.

[8] Dalam kasetnya yang berjudul “Limadza Yakhâfuna Minal Islâm”, dinukil dari kitab Al-Quthbiyah hal. 90-91.

[9] Dalam kasetnya yang berjudul “Al-Ummah Al-Ghâ`ibah”, dinukil dari kitab Al-Quthbiyah hal. 91.

[10] Dalam kasetnya yang berjudul “Yaa Lajarahâtul Muslimîn”, dinukil dari kitab Al-Quthbiyah hal. 91.

[11] Berkata Syaikh Ibnu Baz rahimahullâh, “Sesungguhnya Usamah bin Ladin termasuk para pembuat kerusakan yang memilih jalan-jalan kejelekan yang rusak dan keluar dari ketaatan kepada Waliyyul Amri.” Dan beliau juga berkata, “Nasehat saya untuk Al-Mis’ary, Al-Faqih, Ibnu Ladin dan seluruh yang menempuh jalan mereka, untuk meninggalkan jalan buruk itu, dan hendaknya mereka bertakwa kepada Allah, berhati-hati dari siksaan dan kemurkaan-Nya, dan hendaknya mereka kembali kepada jalan yang lurus serta bertaubat kepada Allah dari apa yang telah lalu. Allah menjanjikan hamba-hamba-Nya yang bertaubat untuk menerima taubat mereka dan berbuat baik kepada mereka, sebagaimana dalam firman (Allah) Subhânahu, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi).” dan (Allah) Subhânahu berfirman, “Dan bertaubatlah kalian semuanya kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.”. Dan ayat-ayat yang semakna dengannya sangatlah banyak.” [] Guru kami, Syaikh Muqbil bin Hady berkata, “Saya berlepas diri kepada Allah dari Ibnu Ladin, ia adalah kemalangan dan petaka terhadap umat, dan amalan-amalannya adalah kejelekan.” []

[12] Baca http://www.aljazeera.net/programs/hour_issues/articles/2003/2/2-22-1.htm.

[13] Al-Maurid Al-Adzab Az-Zulâl hal. 186.

[sumber: http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/sebab-sebab-munculnya-terorisme-dasar-dasar-pokok-manhaj-terselubung-bag-1.html]